Modul 7 – PEMBUATAN KEPUTUSAN (DECISION MAKING)


Metode Analytic Hierarchy Process (AHP)

Metode Analytic Hierarchy Process (AHP) merupakan teori umum mengenai pengukuran (Saaty, T.L., 1990a). Empat macam skala pengukuran yang biasanya digunakan secara berurutan adalah skala nominal, ordinal, interval dan rasio. Skala yang lebih tinggi dapat dikategorikan menjadi skala yang lebih rendah, namun tidak sebaliknya. Pendapatan per bulan yang berskala rasio dapat dikategorikan menjadi tingkat pendapatan yang berskala ordinal atau kategori (tinggi, menengah, rendah) yang berskala nominal. Sebaliknya jika pada saat dilakukan pengukuran data yang diperoleh adalah kategori atau ordinal, data yang berskala lebih tinggi tidak dapat diperoleh. AHP mengatasi sebagian permasalahan itu.

AHP digunakan untuk menurunkan skala rasio dari beberapa perbandingan berpasangan yang bersifat diskrit maupun kontinu. Perbandingan berpasangan tersebut dapat diperoleh melalui pengukuran aktual maupun pengukuran relative dari derajat kesukaan, atau kepentingan atau perasaan. Dengan demikian metoda ini sangat berguna untuk membantu mendapatkan skala rasio dari hal-hal yang semula sulit diukur seperti pendapat, perasaan, prilaku dan kepercayaan.

Penggunaan AHP dimulai dengan membuat struktur hirarki atau jaringan dari permasalahan yang ingin diteliti. Di dalam hirarki terdapat tujuan utama, kriteria-kriteria, sub kriteria-sub kriteria dan alternatif-alternatif yang akan dibahas. Perbandingan berpasangan dipergunakan untuk membentuk hubungan di dalam struktur. Hasil dari perbandingan berpasangan ini akan membentuk matrik dimana skala rasio diturunkan dalam bentuk eigenvektor utama atau fungsi-eigen. Matrik tersebut berciri positif dan berbalikan, yakni aij = 1/ aji

K1 K2 K3 Kj
K1 a11 a12 a13 a1j
K2 a21 a22 a23 a2j
K3 a31 a32 a33 a3j
Ki ai1 ai2 ai3 aij

 

Gambar 7.1 Dekomposisi permasalahan kedalam bentuk hirarki (Saaty, T.L., 1990a)

Gambar 7.1 menunjukkan stuktur hirarki dari kasus permasalahan yang ingin diteliti yakni pemilihan rumah yang lebih disukai berdasarkan kedelapan faktor. Garis-garis yang menghubungkan kotak-kotak antar level merupakan hubungan yang perlu diukur dengan perbandingan berpasangan dengan arah ke level yang lebih tinggi. Level 1 merupakan tujuan dari penelitian yakni memilih alternatif moda yang tertera pada level 3. Faktor-faktor pada level 2 diukur dengan perbandingan berpasangan berarah ke level 1. Misalnya didalam memilih rumah A, mana yang lebih penting antara faktor size of house dan transportation ? Mana yang lebih penting antara faktor size of house dan neighborhood, size of house dan age of house, size of house dan yard space,  dan seterusnya. Mengingat faktor-faktor tersebut diukur secara relatif antara satu dengan yang lain, skala pengukuran relatif 1 hingga 9, seperti yang tertera dalam Tabel 7.1, diusulkan untuk dipakai oleh Saaty, T.L. (1990a). Jika nilai elemen yang dibandingkan sangat dekat satu sama lain, penggunaan skala 1.1, 1.2 hingga 1.9 dapat digunakan Saaty, T.L. (1990a).

Tabel 7.1 Skala Dasar Perbandingan Berpasangan

Intensitas dari kepentingan pada skala absolut

Definisi

Penjelasan

1

Sama pentingnya Kedua aktifitas menyumbangkan sama pada tujuan

3

Agak lebih penting yang satuatas lainnya Pengalaman dan keputusan menunjukkan kesukaan atas satu aktifitas lebih dari yang lain

5

cukup penting Pengalaman dan keputusan menunjukkan kesukaan atas satu aktifitas lebih dari yang lain

7

sangat penting Pengalaman dan keputusan menunjukkan kesukaan yang kuat atas satu aktifitas lebih dari yang lain

9

kepentingan yang ekstrim Bukti menyukai satu aktifitas atas yang lain sangat kuat

2,4,6,8

nilai tengah diantara dua nilai keputusan yang berdekatan Bila kompromi dibutuhkan

berbalikan

jika aktifitas i mempunyai nilai yang lebih tinggi dari aktifitas j maka j mempunyai nilai berbalikan ketika dibandingkan dengan

rasio

rasio yang didapat langsung dari pengukuran

Seperti yang ditunjukkan pada Tabel 7.1, yang memberikan skala nilai perbandingan berpasangan pada sejumlah kepentingan yang harus dievaluasi. Skala dimulai dari 1 hingga 9 yang bernilai mulai dari tingkat kepentingan yang sama hingga tingkat kepentingan yang sangat ekstrim.

Konsistensi AHP

Jika aij mewakili derajat kepentingan faktor i terhadap faktor j dan ajk menyatakan kepentingan dari faktor j terhadap faktor k, maka agar keputusan menjadi konsisten, kepentingan dari faktor i terhadap faktor k harus sama dengan aij.ajk atau jika aij.ajk = aik untuk semua i,j,k maka matrix tersebut konsisten. Permasalahan didalam pengukuran pendapat manusia, konsistensi tidak dapat dipaksakan. Jika A>B (misalnya 2 > 1) dan C>B (misalnya 3>1), tidak dapat dipaksakan bahwa C>A dengan angka 6>1 meskipun hal itu konsisten. Pengumpulan pendapat antara satu faktor dengan yang lain adalah bebas satu sama lain, dan hal ini dapat mengarah pada ketidakkonsistensian jawaban yang diberikan responden. Namun, terlalu banyak ketidakkonsistensian juga tidak diinginkan. Pengulangan wawancara pada sejumlah responden yang sama kadang diperlukan apabila derajat tidak konsistennya besar.

Saaty, T.L. (1990a) telah membuktikan bahwa indeks konsistensi dari matrik berordo n dapat diperoleh dengan rumus :

CI = (λmaksimum-n)/(n-1)

dimana :

C.I                   = Indek konsistensi (Consistency Index)

λmaksimum     = Nilai eigen terbesar dari matrik berordo n

Nilai eigen terbesar didapat dengan menjumlahkan hasil perkalian jumlah kolom dengan eigen vektor utama.

Apabila C.I bernilai nol, berarti matrik konsisten. batas ketidakkonsistenan yang ditetapkan Saaty, T.L. (1990b), diukur dengan menggunakan rasio konsistensi (CR), yakni perbandingan indek konsistensi dengan nilai pembangkit random (RI) yang ditampilkan dalam Tabel 7.2. Nilai ini bergantung pada ordo matrik n. Dengan demikian, rasio konsistensi dapat dirumuskan:

CR=CI/RI

Tabel 7.2 Nilai Pembangkit Random (R.I.)

n

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

R.I.

0

0

0.58

0.9

1.12

1.24

1.32

1.41

1.45

1.49

n

11 12 13 14 15

R.I.

1.51 1.48 1.56 1.57 1.59

Bila matrik bernilai CR lebih kecil dari 10%, ketidakkonsistenan pendapat masih dianggap dapat diterima.

Langkah-langkah penyelesaian AHP :

  1. Membuat matrik perbandingan berpasangan
  2. Menormalisasikan matrik
  3. Menghitung Eigenvektor
  4. Menghitung rasio konsistensi (CR)
  5. Mengurutkan nilai Eigenvektor

Download materi lengkap : MS2011 – Modul 7 – Pengambilan Keputusan

Download persentasi : MS2011-Modul 7-Pengambilan Keputusan (AHP)

Soal latihan

1. Andaikan bahwa anda adalah manager IT disebuah perusahaan terkemuka, akan memigrasi sistem pengolahan data perusahaan, saat ini dihadapkan pada pemilihan software database sistem. Buatlah pengambilan keputusan menggunakan AHP untuk pemilihan software database server. Interview kriteria dan pilihan bisa dilakukan terhadap pada mahasiswa Teknik Informatika semester 6 keatas atau alumni.

Kriteria : kehandalan, fleksibiltas query, pamakaian memori

Pilihan : MySQL, MS SQL Server, Oracle, PostgreSQL

2. Bayangkan bahwa anda akan memilih kampus tujuan untuk kuliah jurusan Teknik Informatika. Buatlah pengambilan keputusan menggunakan AHP untuk pemilihan kampus tujuan kuliah jurusan Teknik Informatika.

Kriteria : transportasi, kualitas jurusan, lama studi rata-rata, serapan di dunia kerja

Pilihan : UMG, Unisla (Lamongan), UMM (Malang), STTQ Qomaruddin (Bungah Gresik).

3. Bayangkan bahwa anda adalah mahasiswa baru, bertempat tinggal di kecamatan Panceng, dan akan memulai kuliah di UMG. Buatlah pengambilan keputusan menggunakan AHP untuk pemilihan transportasi ke kampus UMG.

Kriteria : aman, nyaman, biaya, waktu

Pilihan : sepeda motor, mobil pribadi, angkutan umum, jalan kaki (kos disekitar kampus).

4. Anda dan pasangan (suami/istri) berencana akan membeli rumah diperumahan. Ada beberapa pilihan lokasi perumahan dengan kriteria-kriteria yang anda tentukan. Anda dan pasangan harus mengambil keputusan yang paling tepat.

Kriteria : fasilitas (masjid, minimarket, sarana olahraga), jumlah tetangga (keramaian), harga, transportasi (kemudahan pecapaian lokasi), usia rumah.

Pilihan : Pondok Permata Suci (PPS), Gresik Kota Baru (GKB), Alam Bukit Raya (ABR), Perumahan Banjarsari.

5. Ada 4 perusahaan yang menyediakan lowongan pekerjaan untuk posisi yang sama yaitu programmer. Masing-masing perusahaan mempunyai nilai tersendiri yang anda nilai secara rasio (perbandingan). Anda harus menentukan pilihan yang terbaik dengan merangkingnya.

Kriteria : gaji, fasilitas (transportasi, makan), jenjang karir, seragam kerja

Pilihan : Indospring, New Era, Behaestex, BNI.

6. Anda berencana untuk mengadakan acara makan-makan bersama teman-teman. Ada 4 pilihan rumah makan di Gresik. Anda ingin memilih rumah makan yang terbaik dengan merangkingnya menggunakan metode AHP, yang dipengaruhi oleh kriteria-kriteria tertentu. Buatlah rangkingnya untuk membantu pengambilan keputusan.

Kriteria : pilihan menu (banyak sedikitnya pilihan), cita rasa, harga, kenyamanan tempat, jangkauan dari kampus.

Pilihan : warung apung rahmawati, carita, warung segoromadu, depot cianjur.

7. Resepsi pernikahan anda akan digelar digedung. Ada 4 pilihan gedung di Gresik, dengan kriteria-kriteria masing-masing. Anda dan pasangan akan memilih gedung untuk acara tersebut dengan bantuan metode AHP. Buatlah pengambilan keputusannya dengan AHP.

Kriteria : harga sewa, luas tempat acara (kapasitas orang), kemewahan tempat, dukungan catering.

Pilihan : Wisma Ahmad Yani, Graha Petrokimia, GNI, Aula Masjid Agung Gresik.

Cumulative Voting

Cumulative Voting (CV) adalah salah satu metode yang paling mudah untuk digunakan dalam pemeringkatan requirement software, hal ini telah diinvestigasi oleh Sahni (2007) dalam hal konsumsi waktu, skalabilitas, akurasi, kemudahan penggunaan dan kemudahan dipelajari, dibandingkan dengan AHP. Metode ini juga dikenal sebagai 100 point menurut Ahl (2005). Setiap customer diberikan 100 point kemudian harus mendistribusikannya ke sejumlah requirement. Selanjutnya setiap point yang diterima oleh requirement dilakukan penjumlahan (akumulasi) untuk mendapatkan total point yang diterima untuk setiap requirement. Metode ini juga menjadi bagian metode yang diusulkan oleh Prasetyo (2011) yaitu metode ACBA, sehingga pengembangan metode ini menjadi masalah yang penting.

Selain bernama 100 poin, metode ini juga ada yang menamakan metode 100 dolar dan cumulative voting (Leffingwell, D. dan Widrig, D., 2003). Tidak ada informasi yang pasti kapan metode 100P ditemukan dan berapa lama sudah digunakan. Pertama kali metode 100P digunakan, mungkin ketika orang mulai mempertukarkan benda satu dengan yang sama lain. Misalnya, jika mendapat dua buah sarung untuk kampak, atau menukar kampak dengan tiga keranjang ?. Bagaimanapun, jika ini adalah pertama kalinya atau tidak, hal tersebut murni spekulasi, sedangkan tidak ada referensi kapan orang pertama kali menggunakan metode ini. Ada beberpa pembahasan yang dilakukan mengenai pengaruh metode ini, kebanyakan jurnal didapatkan di bidang ekonomi, misalnya Bowler, S., et. al. (1999), Danielson M.G. dan Karpoff, J.M.  (1998), Still, E. dan Karlan, P. (1995), Brischetto, R. (1995). Dalam ilmu rekayasa perangkat lunak, tidak ada publikasi yang banyak, sedikit buku dan artikel yang membahasnya, yaitu Leffingwell, D. dan Widrig, D. (2003) dan Regnell, B. et al (2001).

Leffingwell, D. dan Widrig, D. (2003) megatakan bahwa ”This simple test is fun, fair and easy to do”. Sebagaimana indikasi namanya, setiap orang yang bersangkutan harus mendapatkan seratus point dari beberapa nilai. Dengan point ini harus melakukan ”purchase ideas”. Setiap orang menuliskan pada selembar kertas point-point mereka, satu orang menghitung, dengan mengambil jawaban dan menjumlahkan point yang didapatkan setiap spesifikasi kebutuhan dan memberikan hasil cumulative voting. Kebutuhan yang mendapatkan skor tertinggi adalah kebutuhan yang paling penting.

Leffingwell, D. dan Widrig, D. (2003) mengklaim bahwa permasalahan pada metode ini hanya melakukan satu kali dalam setiap proyek. Tidak ada alasannya mengapa. Salah satunya adalah ketika hasil telah diberikan, setiap orang harus melihat bagaimana yang lain telah divoting. Jika kebutuhan favorit seorang partisipan ditempatkan diurutan pertama dan kebutuhan favorit berikutnya diurutan terakhir, maka orang ini bisa saja pada putaran kedua memasukkan semua pointnya pada kebutuhan favorit keduanya dan bisa mendapatkan dua kebutuhannya berada di posisi teratas. Peringatan lain yang diberikan Leffingwell, D. dan Widrig, D. (2003) adalah bahwa bisa saja diperlukan batasan berapa banyak satu orang dapat memberikan point untuk satu kebutuhan. Jika tidak ada batasan, seorang partisipan yang lebih pandai dapat memperkirakan bahwa spesifikasi kebutuhan seperti ”user friendly”, ”nice GUI’ atau yang lain akan mendapatkan nilai tinggi, tapi dia juga menginginkan perangkat lunak dapat berjalan di banyak sistem operasi. Maka dia akan meletakkan semua poinnya pada ”platform independent” dan dengan pilihan itu berharap kedua kebutuhannya berada dalam daftar.

Secara teori 100P sama fleksibelnya seperti Planning Game (PG) dalam jumlah perbandingan, misalnya n spesifikasi kebutuhan membutuhkan n perbandingan. Sehingga, metode ini sungguh cepat dan scalable jika dibandingkan dengan AHP. Walaupun mempunyai jumlah perbandingan yang sama dengan PG, misalnya n, metode ini mungkin memerlukan waktu yang lebih lama dalam pembandingannya. Alasan ini adalah bahwa dalam PG keputusan ada didalam dimana pile ditempati kebutuhan.

Untuk 100P, skalanya adalah rasio, dimana skala yang sama dengan AHP. Sehingga seseorang yang melakukan pemeringkatan memperhatikan yang manakah spesifikasi kebutuhan yang lebih atau kurang penting daripada yang lain. Pada saat yang sama, hanya mempunyai sedikit point yang harus didistribusikan, dimana mungkin juga memerlukan waktu untuk perhitungan distribusi point terhadap spesifikasi kebutuhan yang berbeda.

Langkah-langkah pemeringkatan dengan metode CV :

  1. Memasukkan semua spesifikasi kebutuhan dalam baris.
  2. Membagi semua point diantara spesifikasi kebutuhan, menurut yang manakah spesifikasi kebutuhan yang paling penting kepada sistem oleh setiap orang yang berkontribusi
  3. Mengakumulasi poin yang didapat setiap spesifikasi kebutuhan dari setiap pemberi suara/poin
  4. Merangking spesifikasi kebutuhan berdasarkan total poin yang didapat dengan urutan menurun.

Download materi lengkap : MS2011 – Modul 7 – Pengambilan Keputusan (CV)

Download persentasi : MS2011-Modul 7-Pengambilan Keputusan (CV)

Download file Cumulative Voting + AHP (Excel) : Cumulative Voting  (14 Juni 2011)

Soal Latihan – Medium Access Control Sublayer


Dari Buku Computer Networks Edisi 4 oleh Andrew S. Tanenbaum.

2. The following character encoding is used in a data link protocol: A: 01000111; B: 11100011; FLAG: 01111110; ESC: 11100000 Show the bit sequence transmitted (in binary) for the four-character frame: A B ESC FLAG when each of the following framing methods are used:

(a) Character count.

(b) Flag bytes with byte stuffing.

(c) Starting and ending flag bytes, with bit stuffing.

3. The following data fragment occurs in the middle of a data stream for which the byte-stuffing algorithm described in the text is used: A B ESC C ESC FLAG FLAG D. What is the output after stuffing?

5. A bit string, 0111101111101111110, needs to be transmitted at the data link layer. What is the string actually transmitted after bit stuffing?

10. An 8-bit byte with binary value 10101111 is to be encoded using an even-parity Hamming code. What is the binary value after encoding?

15. A bit stream 10011101 is transmitted using the standard CRC method described in the text. The generator polynomial is x3 + 1. Show the actual bit string transmitted. Suppose the third bit from the left is inverted during transmission. Show that this error is detected at the receiver’s end.

16. Data link protocols almost always put the CRC in a trailer rather than in a header. Why?

17. A channel has a bit rate of 4 kbps and a propagation delay of 20 msec. For what range of frame sizes does stop-and-wait give an efficiency of at least 50 percent?

Download jawabannya : ……. sabar….

Wireless LAN 802.11a/b/g/n/y apa bedanya ???


Meskipun Ethernet digunakan secara luas, ada teknologi lain yang bersaing dengannya yaitu wireless LAN. Wireless LAN semakin populer dan semakin banyak gedung perkantoran, bandara, dan tempat-tempat umum yang lain sedang dilengkapi dengan wireless LAN. Wireless LAN dapat beroperasi dengan satu dari dua konfigurasi, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.53 dan Gambar 3.54, dengan base station (access point) dan tanpa base station. Akibatnya, standar LAN 802.11 mempertimbangkan hal ini dan membuat ketentuan untuk kedua konfigurasi.

 

Gambar 3.58 Jaringan wireless dengan Access Point

 

Gambar 3.59 Jaringan wireless tanpa access point (ad-hoc)

Protokol yang digunakan oleh semua varian 802, termasuk Ethernet, memiliki kesamaan tertentu dalam struktur. Tampilan parsial stack protokol 802.11 diberikan pada Gambar 3.55. Lapisan fisik sesuai dengan physical layer OSI cukup baik, tapi data link layer di semua protokol 802 dibagi menjadi dua atau lebih sublayers. Dalam 802.11, MAC (Medium Access Control) sublayer menentukan bagaimana channel dialokasikan, yaitu siapa yang mendapat giliran untuk mengirimkan frame berikutnya. Di atasnya adalah LLC (Logical Link Control) sublayer, yang tugasnya adalah untuk menyembunyikan perbedaan antara varian 802 yang berbeda dan membuat mereka tidak dapat dibedakan sampai lapisan jaringan yang bersangkutan (logical link control).

 

Gambar 3.60 Stack protokol wireless 802.11

Ada lima teknik modulasi transmisi wireless yang diizinkan yang memungkinkan untuk mengirim frame MAC dari satu host ke host yang lain. Masing-masing teknik berbeda dalam teknologi yang digunakan dan kecepatan yang dapat dicapai.

Sinar Infrared menggunakan teknk penyebaran (tidak saling berhadapan) transmisi pada panjang gelombang 0.85 atau 0.95 mikron. Dua kecepatan yang diijinkan : 1 Mbps dan 2 Mbps. Pada kecepatan 1 Mbps, skema encoding yang digunakan adalah ada sekelompok 4-bit yang dikodekan sebagai codeword 16-bit yang mengandung lima belas bit 0 dan satu bit 1, teknik ni disebut Gray code. Kode ini memiliki properti sedit kesalahan kecil dalam sinkronisasi waktu tertentu yang dapat menyebabkan hanya satu bit error pada output. Pada kecepatan 2 Mbps, encoding menggunakan 2-bit dan menghasilkan codeword 4-bit, juga dengan hanya satu bit 1, membentuk salah satu dari 0001, 0010, 0100, atau 1000. Sinyal inframerah tidak dapat menembus dinding, sehingga sel-sel di ruangan yang berbeda dapat terisolasi dengan baik satu sama lain. Namun demikian, karena bandwidth rendah (dan fakta bahwa matahari juga mempunyai sinar infrared) maka infrared bukan pilihan yang populer.

FHSS (Frequency Hopping Spread Spectrum) menggunakan 79 channel, masing-masing channel lebarnya 1 MHz, dimulai pada ujung rendah dari band ISM (Industrial, Scientific dan Medical) 2.4 GHz. Sebuah pseudorandom number generator digunakan untuk menghasilkan urutan frekuensi lompatan. Asalkan semua stasiun menggunakan awalan yang sama untuk nomor pseudorandom generator dan tetap disinkronkan dengan waktu maka mereka akan melompat ke frekuensi yang sama secara simultan. Jumlah waktu yang dihabiskan di masing-masing frekuensi, waktu diam adalah parameter yang dapat diatur, tetapi harus kurang dari 400 msec. Pengacakan FHSS ‘menyediakan cara yang adil untuk mengalokasikan spektrum di band ISM yang tidak diregulasi. Hal ini ini juga memberikan sedikit porsi keamanan karena intruder yang tidak tahu urutan hopping atau waktu diam tidak bisa menyadap transmisi. Lebih jauh lagi, multipath fading bisa menjadi masalah, dan FHSS menawarkan ketahanan yang baik terhadap masalah itu. FHSS juga relatif tidak sensitif terhadap gangguan radio, yang membuatnya populer untuk membuat hubungan antar bangunan. Kerugian utamanya adalah bandwidth rendah.

Metode modulasi ketiga adalah DSSS (Direct Sequence Spread Spectrum), juga dibatasi untuk 1 atau 2 Mbps. Skema yang digunakan memiliki beberapa kesamaan dengan sistem CDMA, tetapi berbeda pada cara yang lain. Setiap bit ditransmisikan sebagai 11 chip, dengan menggunakan apa yang disebut Barker sequence. Menggunakan phase shift modulation pada 1 Mbaud, transmisi 1 bit per baud ketika beroperasi pada 1 Mbps dan 2 bit per baud ketika beroperasi pada 2 Mbps. Selama bertahun-tahun, FCC diperlukan oleh semua operasi peralatan komunikasi nirkabel pada pita ISM di Amerika Serikat dengan menggunakan spread spectrum, tetapi pada bulan Mei 2002, aturan ini dihapus karena munculnya teknologi baru.

Jaringan LAN nirkabel pertama yang berkecepatan tinggi adalah 802.11a, menggunakan OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) untuk mengirimkan sampai dengan 54 Mbps pada pita ISM yang lebih lebar pada frekuensi 5-GHz. Sebagaimana istilah FDM, ada 52 frekuensi berbeda yang digunakan : 48 untuk data dan 4 untuk sinkronisasi, tidak seperti ADSL. Karena transmisi menggunakan cara munculnya frekuensi beberapa pada saat yang sama, teknik ini dipandang sebagai bentuk spread spectrum, tetapi berbeda disbanding CDMA dan FHSS. Memisahkan sinyal menjadi band sempit memiliki beberapa keunggulan dibanding menggunakan band lebar tetapi tunggal, termasuk imunitas yang lebih baik untuk gangguan narrowband dan kemungkinan menggunakan band noncontinuous. Sebuah sistem enkoding yang kompleks digunakan, berdasarkan phase shift modulation untuk kecepatan hingga 18 Mbps dan QAM. Pada kecepatan 54 Mbps, 216 bit data dikodekan menjadi simbol 288-bit. Motivasi OFDM adalah kompatibilitas dengan sistem European HiperLAN/2. Teknik ini memiliki efisiensi spektrum yang baik dalam hal bit/Hz dan kekebalan yang baik untuk multipath fading.

Teknik berikutnya adalah HR-DSSS (High Rate Direct Sequence Spread Spectrum), teknik spread spectrum yang lain, menggunakan 11 juta chip/detik untuk mencapai 11 Mbps dalam band 2.4 GHz. Teknik ini disebut 802.11b tapi bukan kelanjutan dari 802.11a. Bahkan, standar ini lebih dahulu disetujui pertama dan lebih cepat sampai ke pasar. Data rates yang didukung oleh 802.11b adalah 1, 2, 5.5, dan 11 Mbps. Dua data rate yang lebih rendah berjalan pada 1 Mbaud masing-masing dengan 1 dan 2 bit per baud, dengan menggunakan phase shift modulation untuk kompatibilitas dengan DSSS. Dua data rate yang lebih tinggi berjalan pada 1375 Mbaud masing-masing dengan 4 dan 8 bit per baud, dengan menggunakan kode Walsh/Hadamard. Data rate dapat secara dinamis disesuaikan selama operasi untuk mencapai kecepatan optimal yang dimungkinkan dalam kondisi yang ada pada beban dan noise. Dalam prakteknya, kecepatan operasi dari 802.11b hampir selalu 11 Mbps. Walaupun 802.11b lebih lambat dari 802.11a, jangkauannya sekitar 7 kali lebih besar, dalam banyak situasi hal ini menjadi lebih penting.

Peningkatan versi 802.11b adalah 802.11g, yang telah disetujui oleh IEEE pada bulan November 2001 setelah banyak yang berpolitik bahwa dengan patennya teknologi itu, maka akan segera digunakan. Versi ini menggunakan metode modulasi OFDM dari 802.11a tetapi beroperasi dalam band sempit di ISM 2.4 GHz bersama dengan 802.11b. Secara teori itu dapat beroperasi sampai dengan 54 Mbps. Masih belum jelas apakah kecepatan ini akan terwujud dalam praktek. Ini berarti bahwa komite 802.11 telah menghasilkan tiga LAN nirkabel berbeda dengan kecepatan tinggi : 802.11a, 802.11b, dan 802.11g dengan radius jangkauan sekitar 100 meter.

Wireless 802.11b/g beroperasi pada pita frekuensi 2400 MHz sampai 2483.50 MHz. Dengan mengijinkan operasi dalam 11 channel (masing-masing 5 MHz), berpusat di frekuensi berikut:

  • Channel 1 – 2,412 MHz
  • Channel 2 – 2,417 MHz
  • Channel 3 – 2,422 MHz
  • Channel 4 – 2,427 MHz
  • Channel 5 – 2,432 MHz
  • Channel 6 – 2,437 MHz
  • Channel 7 – 2,442 MHz
  • Channel 8 – 2,447 MHz
  • Channel 9 – 2,452 MHz
  • Channel 10 – 2,457 MHz
  • Channel 11 – 2,462 MHz

Wireless 802.11n

IEEE 802.11n-2009 adalah sebuah perubahan standar jaringan nirkabel 802.11-2.007 IEEE untuk meningkatkan throughput lebih dari standar sebelumnya, seperti 802.11b dan 802.11g, dengan peningkatan data rate maksimum dalam lapisan fisik OSI (PHY) dari 54 Mbps ke maksimum 600 Mbps dengan menggunakan empat ruang aliran di  lebar channel 40 MHz. Sejak tahun 2007, Wi-Fi Alliance telah memberikan sertifikat interoperabilitas produk “draft-n”  berdasarkan pada draft 2.0 dari spesifikasi IEEE 802.11n. Aliansi telah meningkatkan perangkat ini dengan tes kompatibilitas untuk beberapa perangkat tambahan yang diselesaikan setelah Draft 2.0 . Lebih jauh lagi, telah ditegaskan bahwa semua produk bersertifikat draft-n tetap kompatibel dengan produk-produk standar terakhir.

IEEE 802.11n didasarkan pada standar 802.11 sebelumnya dengan menambahkan multiple-input multiple-output (MIMO) dan 40 MHz ke lapisan saluran fisik (PHY), dan frame agregasi ke MAC layer. MIMO adalah teknologi yang menggunakan beberapa antena untuk menyelesaikan informasi lebih lanjut secara koheren daripada menggunakan satu antena. Dua manfaat penting MIMO adalah menyediakan keragaman antenna dan spasial multiplexing untuk 802.11n. Kemampuan lain teknologi MIMO adalah menyediakan Spatial Division Multiplexing (SDM). SDM secara spasial me-multiplexes beberapa stream data independen, ditransfer secara serentak dalam satu  saluran spektral bandwidth. MIMO SDM dapat meningkatkan throughput data seperti jumlah dari pemecahan stream  data spatial yang ditingkatkan. Setiap aliran spasial membutuhkan antena yang terpisah baik pada pemancar dan penerima. Di samping itu, teknologi MIMO memerlukan rantai frekuensi radio yang terpisah dan analog-ke-digital converter untuk masing-masing antena MIMO yang merubah biaya pelaksanaan menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan sistem non-MIMO.  Saluran 40 MHz adalah fitur lain yang dimasukkan ke dalam 802.11n yang menggandakan lebar saluran dari 20 MHz di 802.11 PHY sebelumnya untuk mengirimkan data. Hal ini memungkinkan untuk penggandaan kecepatan data PHY melebihi satu saluran 20 MHz. Hal ini dapat diaktifkan di 5 GHz mode, atau dalam 2.4 GHz jika ada pengetahuan yang tidak akan mengganggu beberapa 802.11 lainnya atau sistem non-802.11 (seperti Bluetooth) menggunakan frekuensi yang sama. Arsitektur coupling MIMO dengan saluran bandwidth yang lebih luas menawarkan peningkatan fisik transfer rate melebihi 802.11a (5 GHz) dan 802.11g (2.4 GHz).

Kelebihan versi 802.11n dibanding 802.11 sebelumnya adalah :

  1. Mampu mentransfer data seperti di “jalan tol wireless” sehingga menghemat waktu dan lebih cepat.
  2. Terdapat kombinasi dua frekuensi wireless untuk performance yang lebih baik.
    Fitur memperkecil jumlah data yang dibutuhkan untuk transfer file untuk memberi ruang lebih di jalur pengiriman file.
  3. Wi-Fi 802.11n dapat mencapai kecepatan 600Mbps.
  4. Memberikan waktu lebih panjang untuk daya baterai karena chip 802.11n menggunakan power yang lebih sedikit.
  5. Jangkauan radius pemancar lebih luas, untuk indoor sekitar 70 meter, sedangkan outdoor sampai dengan 250 meter.

Tabel 3.18 Spesifikasi teknis 802.11

Protokol Rilis Operasi frekuensi Throughput umum Data rate maksimal Modulasi Jangkauan (indoor) Jangkauan (outdoor) Kompatibilitas
802.11a 1999 5 Ghz 23 Mbps 54 Mbps OFDM ~35 m ~120 m a
802.11b 1999 2.4 Ghz 4.3 Mbps 11 Mbps DSSS ~38 m ~140 m b
802.11g 2003 2.4 Ghz 19 Mbps 54 Mbps OFDM ~38 m ~140 m b, g
802.11n Juni 2009 2.4 Ghz 5 Ghz 74 Mbps 248 Mbps ~70 m ~250 m b, g, n
802.11y Juni 2008 3.7 Ghz 23 Mbps 54 Mbps ~50 m ~5 km

Catatan : 802.11y hanya diterapkan di Amerika Serikat.

Wireless 802.11ac

Wireless IEEE 802.11ac adalah standar nirkabel 802.11 yang saat ini sedang dikembangkan yang akan memberikan throughput yang sangat tinggi pada Wireless Local Area Network (WLAN) dengan frekuensi operasi di bawah 6 GHz (lazim dikenal sebagai band 5 GHz).

Secara teoritis, spesifikasi ini akan memungkinkan throughput multi-stasiun WLAN setidaknya 1 Gbps dan throughput link maksimum tunggal minimal 500 Mbps. Hal ini dilakukan dengan memperluas konsep interface udara yang dianut oleh 802.11n, bandwidth RF lebih lebar (sampai 160 MHz), lebih banyak spasial MIMO stream (hingga 8), MIMO multi-user, dan high-density modulation (hingga 256 QAM) .

Pada tanggal 20 Januari 2011, Spesifikasi Perdana Teknis Draft 0.1 telah dikonfirmasi oleh IEEE 802.11 TGac. Standar penyelesaian diharapkan dalam akhir tahun 2012, dengan persetujuan akhir 802.11 Working Group pada tahun 2013-an. Menurut penelitian, perangkat dengan spesifikasi 802.11ac diharapkan menjadi umum pada tahun 2015 dengan diperkirakan sebaran 1 miliar diseluruh dunia. Pada bulan April 2011, belum ada perangkat konsumen yang menerapkan spesifikasi draft. Diharapkan teknologi selesai dan siap digunakan pada bulan Desember 2012.

Beberapa teknologi baru yang ditanamkab pada 802.11ac :

  • Channel bandwidth lebih lebar

Channel bandwith 80 MHz dan 160 MHz (vs maksimum 40 MHz dalam 802.11n), 80 MHz wajib untuk stasiun, 160 MHz opsional

  • Lebih banyak spasial MIMO stream

Mendukung hingga 8 spasial stream (vs 4 dalam 802.11n)

  • Multi-user MIMO (MU-MIMO)
    • Multiple Stasiun, masing-masing dengan satu atau lebih banyak antena, mengirim atau menerima data stream independen secara simultan. “Space Division Multiple Access” (SDMA) : aliran tidak dipisahkan dengan frekuensi, tetapi diselesaikan secara spasial, analog dengan model MIMO 802.11n
    • Downlink MU-MIMO (satu perangkat pemancar, perangkat penerima ganda) yang termasuk sebagai modus opsional
  • Modulasi

256-QAM, rate 3/4 dan 5/6, ditambahkan sebagai mode opsional (vs 64-QAM, rate maksimum 5/6 802.11n)

  • Fitur lainnya
    • Single sounding dan feedback format untuk pembentukan beam (vs multiple dalam 802.11n)
    • Modifikasi MAC (kebanyakan untuk mendukung perubahan diatas)
    • Mekanisme koeksistensi untuk channel 20/40/80/160 MHz perangkat 11ac dan 11a/n perangkat

Diramu dari berbagai sumber…….

Wireless 802.11ad – Teknologi wireless LAN masa depan


Wi-Fi Alliance dan WiGig Alliance telah sepakat untuk bekerja sama dalam teknologi untuk jaringan pada pita 60 GHz. Pengumuman ini ditetapkan pada tanggal 10 Mei 2010.

Pita frekuensi 60 GHz juga dikenal sebagai band milimeter pada panjang gelombang, memungkinkan transmisi data sampai 7 Gbps dalam jarak pendek di Amerika Serikat dan banyak negara lainnya, dengan konfigurasi multiple channel memungkinkan untuk beroperasi dalam ruang yang sama. Panjang gelombang pendek berarti propagasi pendek, kebanyakan beroperasi dalam ruangan.

IEEE memiliki task force 60 GHz (802.11ad) yang dipasangkan dengan kelompok sub-6 GHz 1 Gbps (802.11ac) sebagai bagian dari dua langkah yang terpisah ke depan untuk WLAN yang lebih cepat. Wi-Fi Alliance kemungkinan akan mensertifikasi karakteristik khusus dari 802.11ad untuk pita frekeuensi 60 GHz. Dan penelitian ini diharapkan selesai pada bulan Desember 2012.

Tapi dapat dilihat bahwa sangat mungkin adaptor wi-fi tunggal di masa depan akan menangani 2.4 GHz untuk kompatibilitas dan jangkauan, 5 GHz untuk kinerja dan mengurangi interferensi (juga di mana 802.11ac difokuskan), dan 60 GHz untuk transfer data jarak pendek super cepat. Setelah spesifikasi kelompok WiGig sekarang sejajar dengan masa depan 802.11, maka wireless akan memudahkan bagi produsen, pembuat sistem komputer, serta pengguna rumahan dan pengguna bisnis.

Sumber :

http://www.ieee802.org/11/Reports/tgad_update.htm, diakses pada 15 Mei 2011.

http://wifinetnews.com/archives/standards/80211ad/, diakses pada 15 Mei 2011.

Soal Remidi UTS Jaringan Komputer


SOAL REMIDI UTS

JARINGAN KOMPUTER

UMG 2011

1. Diberikan data berikut :

Bit yang ditransmisikan : 111001001001

Tentukan deretan bit (encoding gabungan bit data dan bit checksum) yang ditransmisikan dengan teknik CRC sebagai berikut

Generator bit CRC Noreg Mahasiswa Nama Mahasiswa
CRC-4-ITU

08621060

ZAMZARI MALIK
CRC-5-EPC

09621054

DEDY PRASETYO
CRC-5-ITU

09621079

FAKHRUR ROZI
CRC-5-USB

09621045

IRFIANAWATI MUFRIDAH
CRC-6-ITU

09621060

ANDIK WIBOWO
CRC-7

09621065

MUHAMMAD IMAM ZARKASI
CRC-8-CCITT

09621067

MUHAMMAD AAN KARIMINA
CRC-8-Dallas/Maxim

08621041

NOVAN DWI NUGROHO
CRC-8-SAE J1850

09621050

MOHAMMAD SYUAEB
CRC-8-WCDMA

07621059

FAUDZAN ANAMI
CRC-10

09621064

MOHAMMAD ARIF A
CRC-11

09621081

ANTON SUJARWO
CRC-12

2. Tentukan deretan bit (encoding gabungan bit data dan bit paritas) yang ditransmisikan dengan teknik Hamming code paritas genap

Bit data Noreg Mahasiswa Nama Mahasiswa
11001

09621062

FAUZIAH NOVITA PUTERI
110011

09621052

ETIK HIDAYAH
1100110

09621059

MUHAMMAD SUBCHAN
11001100

09621071

ISMI HUDIYA
110011001

09621075

DANY RYZKY ARIF SAPUTRA
1100110011

09621087

ROMADHONA HABIBI
11001100110

09621047

MUHAMMAD FAZ AWWALY AZANUMA
110011001100

09621051

MUHAMMAD AYYUB
1100110011001

09621073

MOHAMMAD ILHAM BASTOMI
11001100110011

09621043

SYAIFUL ANAZ
110011001100110

09621070

RIF ATUL IKHSANI
1100110011001100

08621055

NIZAR ADIAN NOVIARDY
11001100110011001

09621068

IMAS MAISAROH
110011001100110011

08621054

AGUS DWI KURNIAWAN

3. Tentukan encoding sinyal dengan teknik Manchester Encoding untuk deretan bit berikut :

Bit Noreg Mahasiswa Nama Mahasiswa
110011001100110011

09621078

INTAN DESY PRATIWI
111000111000111000

09621048

LIDYA TRIWATI FAEDAH LESTARI
101010101010101010

09621049

NAJMATUN NABILLAH
111011100010001111

09621063

NADLIFATUL IMAMAH
110001100011000110

09621074

FITHROTUL MILLAH
000010000111101111

09621085

AYUNING SRI SASMITA
110001100011000110

09621082

HAFID ALFATONI
000100010001111111

09621086

MUHAMAD SISNO HADI

4. Tentukan encoding sinyal dengan teknik Differential Manchester Encoding untuk deretan bit berikut :

Bit Noreg Mahasiswa Nama Mahasiswa
110011001100110011

09621076

FATMAWATIKHAN
111000111000111000

09621044

MUSTAIN
101010101010101010

09621056

IMAM SADIKHIN
111011100010001111

09621042

AZHAR ANAS
110001100011000110

09621053

ROHMAN DIJAYA
000010000111101111

09621066

RIMA NOER SAFITRI
110001100011000110

09621057

REZA RIA ROSITA
000100010001111111

09621046

SAFERY SYARIATI BILQISTH

Hasil UTS Jaringan Komputer dan Manajemen Sains http://myteks.files.wordpress.com/2011/05/nilai-tugas-dan-uts.pdf

Gresik, 18 Mei 2011

Dosen Pengampu,

TTD

Eko Prasetyo, S.Kom, M.Kom

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 26 other followers